Showing posts with label Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Nusantara. Show all posts

Presiden Joko Widodo menunjuk Johan Budi SP sebagai Staf Khusus Presiden bidang komunikasi

Presiden Joko Widodo menunjuk Johan Budi SP sebagai Staf Khusus Presiden bidang komunikasi, alias juru bicara Presiden.

Johan Budi SP ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi Tim Komunikasi Presiden Bidang Komunikasi alias Juru Bicara Presiden. Johan Budi mengaku istrinya belum tahu soal jabatan baru yang diembannya itu.

Saat diperkenalkan sebagai Jubi oleh Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa ( 12/1/2016), Johan Budi terlihat mengenakan kemeja batik warna hitam dan cokelat. Bawahannya mengenakan celana panjang kain warna hitam.
Selengkapnya...

Pernyataan Kemarahan Jokowi Terkait Kasus 'Papa Minta Saham'




Kemarahan Jokowi disampaikan usia konferensi pers soal Pilkada Serentak di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakpus, Senin (7/12/2015). Saat itu, Jokowi ditanya soal proses sidang di MKD terakhir yang menghadirkan Ketua DPR Setya Novanto, namun digelar dalam suasana tertutup.

Jokowi bicara pelan namun dengan tegas. Di bagian akhir, dia sempat meninggikan suara, sambil menggerakan tangannya. Setelah bicara keras, Jokowi tak mau meladeni tanya jawab dengan wartawan, dan memilih masuk ke dalam ruangan.
Selengkapnya...

Hari Minta Maaf ke Bakrie, Harto Sangat Kecewa


Harto Wiyono (42), korban lumpur Lapindo yang mengawal Hari Suwandi (44) melakukan aksi jalan kaki dari Porong ke Jakarta mengaku sangat kecewa. Tanpa sepengetahuannya, Hari Suwandi melakukan wawancara di televisi dan menyatakan permintaan maaf kepada keluarga Aburizal Bakrie.

"Saya sangat kecewa. Apa yang diucapkan Pak Hari di awal berubah sama sekali. Padahal, jalan kaki dari Porong ke Jakarta ini ide dia sendiri," ujarnya, Kamis (26/7/2012).

Harto Wiyono juga adalah seorang korban lumpur Lapindo. Ia mengawal Hari melakukan aksi jalan kaki selama 25 hari dengan menaiki sepeda motor kreditan yang baru diambil dari dealer. Ia juga mendampingi Hari selama berada di Jakarta.




"Janjinya dulu Pak Hari mau tetap di Jakarta sampai tuntutannya agar korban lumpur dilunasi semua ternyata sekarang berubah," ujarnya.

Menurut dia, saat sudah berada di Jakarta, keluarga Hari dan sejumlah korban lumpur menyusul mereka. Pada 14 Juli lalu, ia diminta Hari mengantar istrinya pulang ke Porong karena orangtua istrinya meninggal. Harto pun pulang bersama istri Hari.

Pada 22 Juli, ia berangkat lagi ke Jakarta untuk menemani Hari. Pada 23 Juli, ia telah kembali bersama Hari menginap di wisma Kontras Jakarta. Pada Rabu (25/7/2012) petang, Hari minta izin keluar untuk membeli susu bagi cucunya yang ikut ke Jakarta.

"Ternyata dia bukan beli susu, tetapi pergi untuk wawancara di TV One," tuturnya.

Dalam wawancara itu, Hari Suwandi mengaku menyesal telah melakukan aksi jalan kaki ke Jakarta. Penyesalan itu ia sampaikan saat berbicara dalam program Apa Kabar Indonesia di TV One pada Rabu (25/7/2012) malam.

Dalam tayangan langsung yang dipandu Indiarto Priadi itu, Hari mengaku menyesal karena selama 16 hari berada di Jakarta tidak ada wakil pemerintah yang menemuinya. Padahal, tujuannya ke Jakarta adalah menemui pemerintah agar menyelesaikan permasalahan korban lumpur di Sidoarjo. Hari lalu meminta maaf kepada keluarga Bakrie.

"Karena, untuk saat ini saya yakin dan percaya keluarga besar Bapak Aburizal Bakrie mampu menyelesaikan permasalahan yang ada di Sidoarjo, khususnya keluarga besar korban lumpur Lapindo, eh, keluarga korban lumpur Sidoarjo yang berada di Perpres 14 Tahun 2007," tuturnya. Hari bahkan sempat menangis saat mengucapkan penyesalannya.

Dalam wawancara sepanjang 12 menit itu, Hari juga menyatakan bahwa dirinya jalan kaki ke Jakarta karena diprovokasi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sejak wawancara itu, Harto tidak bisa mengontak Hari. Ia mengaku sangat kecewa dan malu karena sepanjang perjalanan dari Porong ke Jakarta, ia menyaksikan banyak orang bersimpati pada aksi Hari memperjuangkan nasib korban lumpur Lapindo.

Sebagai salah satu korban lumpur, Harto sampai saat ini belum menerima pelunasan asetnya yang telah ditelan lumpur dari PT Minarak Lapindo Jaya. Dari total nilai aset berupa rumah dan tanah sebesar Rp 490 juta, ia baru menerima Rp 87 juta pada tahun 2007.

"Yang dibayar baru 20 persen, sisanya belum sama sekali," kata Harto.

KOMPAS







BERITA LAINNYA:




Masukkan Email Anda Disini untuk dapatkan BERITA terbaru :

Delivered by FeedBurner



Selengkapnya...

Gudang Mebel Keluarga Jokowi Hangus Terbakar


Gudang mebel Rakabu yang terbakar di Jalan Raya Kartasura-Solo pada Kamis (26/7/2012) siang ternyata milik keluarga Wali Kota Surakarta Joko Widodo (Jokowi). Api muncul tiba-tiba dari dalam pabrik mebel yang terletak di kompleks Perkampungan Industri Kecil Pabelan (PIK Pabelan), Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.

Sejumlah mobil pemadam kebakaran, baik dari Kota Solo maupun Sukoharjo, berupaya melakukan pemadaman pada lokasi yang di dalamnya sarat kayu dan bahan yang mudah terbakar.

Menurut Joko, salah satu karyawan di Kompleks PIK, munculnya api tidak diketahui. Namun, dari gudang mebel itu tiba-tiba keluar asap tebal. "Kejadian kebakaran itu sekitar pukul 11.30. Api dengan cepat membesar karena yang terbakar bahan kayu dan kapuk," kata Joko.




Api baru bisa dikendalikan satu setengah jam kemudian setelah belasan mobil pemadam bergantian memadamkannya. Meskipun api mampu dikendalikan, barang-barang, seperti ratusan mebel, ludes hangus terbakar.

Menurut Wahyu Andriyanto, salah satu pengelola pabrik mebel Rakabu, kemunculan api tidak diketahui. Asap tebal tiba-tiba keluar saat karyawannya sedang beristirahat. Mebel-mebel yang terbakar tersebut, kata dia, sudah dikemas dan siap diekspor ke Spanyol, Perancis, dan Taiwan pada bulan depan. Ia mengatakan, kerugian akibat kebakaran gudang mebel Rakabu diperkirakan Rp 300 juta-Rp 400 juta.

Kepala Polsek Kartasura Ajun Komisaris Fahrul Sugiarto menyatakan belum bisa memberikan keterangan penyebab kebakaran tersebut. Pihaknya masih menyelidikinya, antara lain dengan meminta keterangan para karyawan pabrik mebel tersebut, dan kemungkinan mendatangkan tim Labfor Polri untuk meneliti penyebab kebakaran.

KOMPAS







BERITA LAINNYA:




Masukkan Email Anda Disini untuk dapatkan BERITA terbaru :

Delivered by FeedBurner



Selengkapnya...

Menangis, Hari Suwandi Minta Maaf kepada Keluarga Bakrie


Hari Suwandi, korban Lumpur Lapindo yang berjalan kaki sejauh 827 km dari Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, ke Jakarta meminta maaf kepada Keluarga Bakrie. Ia mengaku menyesal telah melakukan aksi unjuk rasa ini dan telah menjelek-jelekkan Keluarga Bakrie.

"Kami Hari Suwandi sekeluarga memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Keluarga Besar Aburizal Bakrie, khususnya Bapak Aburizal Bakrie, yang mana dalam perjalanan saya dari Porong sampai Jakarta, saya telah banyak mencemarkan nama Bapak Aburizal Bakrie," ucap Hari Suwandi saat diwawancarai presenter TVOne, Indrianto Priyadi, Rabu (25/7/2012). Tayangan wawancara itu dapat disaksikan di laman situs TVOne.




Ia lalu terisak saat sekali lagi mengucapkan permohonan maafnya. "Saya sebagai manusia biasa tak luput dari salah. Sekali lagi saya mohon maaf Bapak Bakrie, mohon maaf kepada Keluarga Besar dari Aburizal Bakrie, dan saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Keluarga Bakrie karena Keluarga Bakrie-lah yang bisa menyelesaikan semua permasalahan di Sidoarjo," katanya sambil terisak.

Hari Suwandi mengaku menyesal karena menurutnya dia diperalat oleh sekelompok orang. Ia tidak menjelaskan secara rinci tentang siapa kelompok yang dimaksud dan tujuannya. Ia mengaku tidak mendapat tekanan dari siapa pun terkait permohonan maafnya ini.

Ia juga menegaskan percaya bahwa Keluarga Bakrie dapat menyelesaikan semua tanggung jawabnya sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo.

"Saya yakin dan percaya Keluarga Besar Bapak Aburizal Bakrie mampu menyelesaikan masalah yang ada di Sidoarjo, khususnya korban Lumpur Lapindo, eh korban Lumpur Sidoarjo," katanya sempat salah ucap.

Hari Suwandi datang ke Jakarta dengan tujuan utama bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia meminta Presiden untuk mendesak pihak Bakrie membayar ganti rugi secara tunai, bukan dicicil. Ia juga mengeluhkan soal tanah garapan masyarakat yang menurutnya belum mendapat ganti rugi. Lumpur Lapindo yang menenggelamkan ribuan rumah juga membuat ribuan orang kehilangan pekerjaan.

"Tidak ada (perwakilan) pemerintah yang menemui saya. Kami sangat menyesali tindakan kami yang melakukan aksi jalan kaki dari Porong sampai Jakarta dengan tujuan meminta pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini, tapi tidak bisa," katanya.

Pada bagian akhir wawancara, ia juga mengucapkan terima kasih karena Keluarga Bakrie telah melunasi aset-aset milik istrinya. "Jadi, (aset) istri saya sudah terbayar lunas pada tahun 2009. Ini menunjukkan bahwasannya Keluarga Bakrie punya komitmen terhadap keluarga korban Lumpur Sidoarjo," kata dia.

KOMPAS







BERITA LAINNYA:




Masukkan Email Anda Disini untuk dapatkan BERITA terbaru :

Delivered by FeedBurner



Selengkapnya...

Menengok Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende


Sempatkan waktu Anda untuk mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno selama berkunjung ke Ende. Rumah beratap seng ini berada di daerah Nggobe, tepatnya di Jalan Perwira, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Di sinilah Anda dapat meresapi bagaimana Bung Karno menjalani keseharian hidupnya bersama keluarga diasingkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda selama 4 tahun (1934-1938). Di balik perjuangannya selama pengasingan, Ende telah membenamkan kesan mendalam bagi Bapak Pendiri Bangsa Indonesia ini.

Ende telah terkenal ke mancanegara jauh sebelum Taman Nasional Komodo dikunjungi wisatawan. Akan tetapi, saat Bung Karno datang ke sini dahulu, Ende ibarat kota mati dengan jalanan kecil belum beraspal. Saat itu rumah penduduk pun masih jarang dan wilayahnya masih berupa hutan, kebun karet, dan tanaman rempah-rempah. Belum ada pelabuhan laut apalagi transportasi udara di Ende saat itu




Rumah yang menghadap ke timur di Pelabuhan Ende ini awalnya milik Haji Abdullah Ambuwaru yang kemudian dikontrak oleh Bung Karno. Luas bangunannya 9 x 18 meter persegi, memiliki tiga kamar yang berderet di sisi kanannya. Satu kamar tidur untuk Bung Karno, satu kamar untuk Ibu Inggit bersama Ibu Amsih, dan satu kamar lagi untuk ruang tamu.

Di belakang rumah ini juga ada sebuah ruangan yang sering digunakan Bung Karno untuk salat dan bermeditasi. Masih membekas dua telapak tangan Bung Karno ketika ia bersujud. Ada juga sebuah sumur yang airnya masih dapat digunakan hingga sekarang.

Tidak banyak yang berubah dari bentuk asli rumah yang dibangun tahun 1927 itu, kecuali saja atap sengnya yang diganti karena bocor. Rumah ini sejak tahun 1954 resmi dijadikan museum dan setelah Indonesia merdeka, Bung Karno sudah tiga kali berkunjung, yaitu tahun 1951, 1954 dan 1957. Tahun 1952 rumah ini pernah dijadikan Kantor Sosial Daerah Flores dan tempat bersidang DPRD Flores.

Di Rumah Pengasingan Bung Karno ini dapat Anda jumpai beragam barang rumah tangga yang dahulu digunakan Bung Karno. Saat Anda berkunjung disarankan Anda dipandu untuk mendapatkan penjelasan dan kisah menarik di baliknya. Bapak Musa adalah seorang penjaga yang dapat Anda sewa sebagai pemandu. Musa adalah cucu Abu Bakar, yaitu seorang pemain sandiwara dari naskah tonil yang dibuat Bung Karno. Saat itu ada 47 anggota dari grup tonil Kelimoetoe yang dibentuk oleh Bung Karno.

Setelah mengisi buku tamu dan membayar tiket Rp 2.500 maka Anda akan melewati pintu berdaun ganda. Di ruang tamunya terdapat kursi rotan dan satu meja bundar yang biasa Bung Karno gunakan untuk menjamu tamunya. Di dinding rumah tergantung lukisan sosok Soekarno karya Affandi yang mulai pudar. Ada pula lukisan Pura Bali yang dibuat Bung Karno tahun 1935. Beberapa foto Bung Karno bersama keluarga dan teman-temannya terpajang juga.

Di sebuah lemari kaca ada dua tongkat kayu yang biasa dibawa Bung Karno dimana ujungnya berkepala kera. Tongkat tersebut digunakan Bung Karno apabila bertemu dengan Pemerintah Hindia Belanda. Bung Karno tidak membalas hormat penguasa Hindia Belanda dengan anggukan tetapi dengan mengarahkan tongkatnya yang berkepala kera. Cara ini sebagai simbol bahwa sifat penjajah hanya bisa dihargai oleh binatang dan tidak oleh sesama manusia.

Dalam lemari kaca juga tersimpan naskah tonil karya Bung Karno dalam map berwarna oranye. Selama di Ende, Bung Karno menghasilkan 13 naskah tonil, diantaranya adalah: “Dokter Setan”, “Aero Dinamik”, “Jula Gubi”, dan “Siang Hai Rumbai”. “Rahasia Kelimutu”, “Tahun 1945”, “Nggera Ende”, “Amuk”, “Rendo”, “Kutkutbi”, “Maha Iblis”, dan “Anak Jadah”. Naskah-naskah tonil tersebut digunakan Bung Karno untuk mengobarkan semangat rakyat merebut kemerdekaan. Pementasan dramanya saat itu dilakukan di Gedung Imakulata, milik Paroki Katedral Ende yang lokasinya berada di Jalan Irian. Sayang, kondisinya saat ini rusak parah.

Sangat disayangkan, sebagian naskah tonil karya Bung Karno saat ini tidak jelas keberadaannya. Yang tersimpan di Ende hanya ada 7 naskah salinan dari Ibrahima Umarsjah (almarhum), yaitu mantan asisten sutradara Bung Karno.

Bung Karno Merenung di Bawah Pohon Sukun

Pernahkah Anda membaca buku biografi Bung Karno karya Cindy Adams yang berjudul, “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”? Dalam buku itu ditulis bahwa Bung Karno gemar merenung di bawah pohon sukun (Artocarpus communis) yang menghadap ke laut.

Pohon aslinya kini sudah tiada karena tumbang oleh angin. Kini, pohon itu berganti dengan pohon sukun baru yang ditanam sejak 17 Agustus 1981 tepat pukul 9 pagi. Penanamannya melalui upacara dihadiri sekitar 40 orang teman Bung Karno yang pernah mendampinginya di Ende tahun 1934.

Pohon sukun tersebut lokasinya 100 meter dari Rumah Pengasingan Bung Karno. Tepatnya di Lapangan Perse (sekarang dinamakan Lapangan Pancasila). Oleh sebagian masyarakat pohon tersebut dianggap keramat dan lebih dikenal sebagai Pohon Pancasila.

Menurut cerita masyarakat, saat hari panas maka Bung Karno sering duduk berteduh di bawah pohon sukun tersebut sambil memandangi daun sukun yang bergigi lima buah dan bersudut lima pada setiap sisinya.

Di bawah pohon itu Bung Karno merenungkan dasar negara Indonesia yang kelak menjadi Pancasila. Pemikiran Bung Karno di Ende sudah meliputi semua sila Pancasila. Saat itu, Bung Karno menyebut sebagai Lima Butir Mutiara. Tidaklah salah apabila Ende disebut sebagai Rahim Pancasila. Ende telah memberi pengaruh besar bagi Bung Karno, terutama kerukunan hidup antarumat beragama di Ende.

KOMPAS







BERITA LAINNYA:




Masukkan Email Anda Disini untuk dapatkan BERITA terbaru :

Delivered by FeedBurner



Selengkapnya...

Es Buah dari Timun Suri, Cocok untuk Pelengkap Berbuka Puasa


Saat Ramadhan, hidangan pelengkap seperti es buah banyak diminati umat Islam yang sedang menjalani ibadah puasa. Salah satu buah yang menjadi pilihan utama masyarakat adalah timun suri. Hal ini tak lepas dari rasa timun suri yang menyegarkan.

Selama Ramadhan, timur suri mudah dijumpai di sejumlah pelosok tempat di Jakarta. Pantauan Kompas.com pada Jumat (20/7/2012), pedagang timun suri terlihat menjajakan timun suri di pinggir jalan di Kalimalang, Jatinegara, Jakarta Timur.

Widodo (50), pedagang timun suri di Jatinegara, menuturkan, permintaan buah tersebut meningkat selama Ramadhan. Menurut dia, timun suri kerap diolah menjadi es buah. "Bisa juga di campur sama buah blewa. Kan, banyak nanti yang mencari buah-buahan segar buat buka puasa," ujar Widodo, Jumat.



Untuk harga, pria yang sudah berjualan selama 14 tahun itu mengatakan, timun suri biasa dipatok Rp 6.000 per kilogram. Adapun harga buah blewah, sambungnya, dipatok Rp 7.000 per kilogram. Menurut dia, rata-rata laba bersih yang bisa didapatnya per tahun lebih dari Rp 1 juta per minggu.

Sementara itu, tidak jauh dari tempat Widodo berjualan, Yadi (39), pedagang timun suri lainnya, dirinya memanfaatkan momentum bulan Ramadhan dengan berjualan timun suri.

"Jadi pas bulan puasa saja. Soalnya, banyak orang yang mau bikin es buah. Timun suri juga bisa dibuat rujak. Kalau untungnya, ya alhamdulillah sih, lumayan," ujar Yadi. Pada Ramadhan 2011, Yadi mengaku bisa meraup untung Rp 1 juta dalam waktu tiga hari.

KOMPAS







BERITA LAINNYA:




Masukkan Email Anda Disini untuk dapatkan BERITA terbaru :

Delivered by FeedBurner



Selengkapnya...

Tak lulus ujian nasional (UN), dukun cilik Ponari jadi obrolan warga


Masih ingatkah Anda dengan Ponari, bocah asal Jombang yang punya kemampuan mengobati dengan batu "ajaib"? Rupanya, siswa SDN Balongsari 1, Megaluh, ini baru saja mengikuti ujian nasional (UN) untuk melanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Sayang, saat hasil ujiannya diumumkan pihak sekolah, dukun cilik itu dinyatakan tidak lulus. Kabar yang beredar, Ponari tak lulus karena malas dan kerap absen.

Kabar ini pun menjadi perbincangan ramai di desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang.



"Ia mba, desa ini geger dengan kabar ketidaklulusan Ponari," kata Subati, seorang pegawai yang bekerja di kantor Camat Plandaan, saat dihubungi merdeka.com, Senin (9/7).

Subati mengatakan, kabar itu sudah mereka dengar sejak bulan Mei lalu. Namun, Subati tidak mengetahui pasti kapan hasil UN itu diumumkan pihak sekolah.

"Soalnya itu cuma kabar dari mulut ke mulut. Tetapi sudah jadi perbincangan ramai," jelasnya.

Saat namanya populer, ratusan warga Jombang bahkan luar daerah datang ke rumahnya untuk berobat. Dengan sebuah batu yang dipegangnya kemudian dicelupkan ke air, lalu air itu diminum mereka yang sakit diyakini bisa menyembuhkan penyakit si pasien.

Tapi ketenaran Ponari hanya sesaat. Parahnya, tidak diikuti pula dengan prestasi belajar yang baik hingga akhirnya dia tinggal kelas dan tetap menggunakan seragam SD.

Menurut Subati, saat ini tren dukun cilik Ponari sudah meredup. Tak ada lagi warga yang berbondong-bondong ke rumahnya seperti pada tahun 2009 silam.

"Saya dengar sih begitu, udah gak ada lagi yang berobat. Sudah sepi," ungkapnya.

merdeka.com







BERITA LAINNYA:




Masukkan Email Anda Disini untuk dapatkan BERITA terbaru :

Delivered by FeedBurner



Selengkapnya...

KPK: Proyek Kitab Suci Saja Dikorupsi...


Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad membenarkan lembaganya saat ini tengah menyelidiki dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan kitab suci Al-Quran di Kementerian Agama. "Tak lama lagi akan naik ke penyidikan," kata Abraham di sela rapat dengar pendapat umum dengan Komisi Hukum di kompleks parlemen, Senayan, Rabu 20 Juni 2012.

Abraham mengungkapkan, pengadaan Al-Quran itu terjadi di Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama. KPK sudah melakukan satu kali ekspose untuk kasus ini. Namun, dia mengaku lupa detail nilai kerugian negara dan siapa yang melaporkan perkara ini.




Penyidikan kasus korupsi ini, menurut Deputi Penindakan KPK KMS Romi, merupakan bukti bahwa praktek korupsi di Indonesia sangat mengenaskan. Korupsi kini juga terjadi di lembaga yang seharusnya menerapkan nilai yang baik, termasuk nilai-nilai keagamaan.

"Kitab suci saja dikorupsi, betapa membuat sedih," kata Romi dalam diskusi di Jakarta, Rabu 20 Juni 2012. "Korupsi tak hanya di lingkungan birokrasi dan Dewan Perwakilan Rakyat RI atau pada proyek-proyek besar negara."

Menurut Romi, praktek korupsi tidak terikat pada lembaga atau instansi tertentu saja. Masalah korupsi lebih personal dari anggota dan peluang yang ada. Salah satunya adalah kasus pengadaan kitab suci yang justru terjadi, menurut Romi, di departemen yang pegawainya memakai lambang Al Qur''an di bajunya. "Kasus korupsi, jangan lihat lembaganya, tapi personelnya," kata Romi.

Romi menolak mengungkapkan pelaku dalam kasus ini. Alasannya, "Agar strategi penyelidikan bisa lebih lanjut," katanya. Penyidik saat ini masih menyelidiki modus korupsi yang dilakukan. Apakah termasuk perbuatan melawan hukum berkaitan dengan penyuapan atau penyalahgunaan kewenangan.

TEMPO







BERITA LAINNYA:




Masukkan Email Anda Disini untuk dapatkan BERITA terbaru :

Delivered by FeedBurner



Selengkapnya...

MUI: Menyakitkan Sekali, Kitab Suci Kok Dikorupsi


Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidhan mengaku kaget mendengar berita tentang adanya dugaan korupsi pengadaan Al-Quran. "Masak Al-Quran saja dikorupsi. Ini sangat menyakitkan dan menggemparkan. Ini kitab suci, kok dikorupsi," kata Amidhan Minggu 24 Juni 2012.

Amidhan menjelaskan, Al-Quran masih tetap suci walaupun ada dugaan korupsi dalam pengadaannya, karena yang bobrok adalah mental koruptor yang rendah. Ia pun berharap kasus ini segera bisa diselidiki hingga tuntas. "Karena ini menyangkut kitab suci, harus diselidiki dan diurus sampai tuntas. Supaya tidak terulang lagi," kata dia.




Amidhan mengaku baru mendengar adanya dugaan korupsi pengadaan Al-Quran ini setelah diungkapkan pemimpin KPK dan menjadi pemberitaan. Tapi dia meyakini KPK sudah memiliki alat bukti yang kuat sehingga berani membuat pernyataan untuk media.

Ketua KPK Abraham Samad, Rabu pekan lalu, membenarkan bahwa lembaganya tengah menyelidiki dugaan korupsi pengadaan Al-Quran. Bahkan status kasus itu segera naik ke penyidikan. KPK sudah melakukan satu kali gelar perkara.

Wakil Menteri Agama Nazaruddin Umar mengatakan proyek pengadaan Al-Quran tidak lewat penunjukan langsung. "Selalu melalui proses tender. Tidak pernah ada penunjukan langsung," ujarnya, Jumat pekan lalu.

Nazaruddin mempersilakan KPK menelusuri dugaan korupsi pengadaan Al-Quran di kementeriannya. Ia juga bersedia kooperatif jika diminta komisi antirasuah itu memberikan keterangan ihwal dugaan korupsi tersebut.

Juru bicara KPK, Johan Budi S.P., mengatakan KPK akan mulai memanggil sejumlah saksi terkait dengan proyek yang berlangsung pada 2010 itu. KPK menaikkan status pengusutan dari tahap pengumpulan bahan dan keterangan ke tahap penyelidikan sejak pekan lalu. »Pekan ini KPK berencana meminta keterangan sejumlah pihak,” kata Johan.

Mereka yang akan dimintai keterangan, kata Johan, adalah para pejabat di Kementerian Agama. Namun identitas pejabat itu belum dapat dipastikan karena pemeriksaan tahap penyelidikan baru akan dimulai.

TEMPO







BERITA LAINNYA:




Masukkan Email Anda Disini untuk dapatkan BERITA terbaru :

Delivered by FeedBurner



Selengkapnya...

Bocah Dibunuh & Dimasukkan Tong Air, Keluarga Minta Pelaku Dihukum Mati


Diiringi isak tangis kedua orang tua, Dian Hadinsyah (35) dan Lilis (30), jenazah Rahayu Novindini (6), korban pembunuhan sadis akhirnya dimakamkan di pemakaman umum Kampung Patrol, Desa Margahayu, Kecamatan Leuwigoong, Garut, Jawa Barat, Jum'at sore ini. Keluarga minta pelaku dihukum mati.

Puluhan pelayat baik sanak saudara maupun tetangga dekat, menitikan air mata mengantar kepergian Ayu, sapaan akrab Rahayu. Sedangkan sang ayah almarhum, Dian Hadiansyah, mengaku sangat terpukul atas peristiwa tersebut. Sebelum peristiwa yang merenggut nyawa anaknya, tidak ada pirasat buruk apapun.



"Hanya saja waktu pencarian, sekelebat saya sempat melihatnya. Bahkan mendengar suaranya memanggil nama saya," ucap Dian sambil menitikan air mata.

Hal yang sama disampaikan kakek korban, Atang (56). Saat melakukan upaya pencarian, dirinya melihat bayangan cucunya di tembok rumah tersangka.

"Sehingga waktu itu, kami bersama warga mendobrak pintu rumah tersangka. Hasilnya memang benar, hanya sayang Ayu sudah meninggal," paparnya sambil menghela napas panjang.

Pihak keluarga meminta aparat kepolisian untuk mengusut kasus tersebut hingga tuntas serta berharap tersangka dihukum dengan hukuman yang setimpal.

"Kalau bisa dihukum mati!" tandas Atang.

detikNews







BERITA LAINNYA:




Masukkan Email Anda Disini untuk dapatkan BERITA terbaru :

Delivered by FeedBurner



Selengkapnya...

Janin Meninggal di Kandungan Tak Ditangani, RS Beralasan Miskomunikasi


Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) membantah menelantarkan seorang perempuan yang janinnya meninggal. Mereka beralasan ada miskomunikasi.

Humas RSUD Provinsi Sultra Masita menyatakan, pihaknya telah menangani pasien atas nama Lirqianti(23). Dokter yang memeriksa sudah memberi penanganan prioritas ke bagian radiologi.

"Setelah ada hasil USG, selanjutnya diteruskan ke bagian radiologi. Nah di bagian radiologi yang menghambat penanganan pasien. Ini hanya miskomunikasi antara ruangan perawatan dengan bagian radiologi," kata Masita kepada wartawan, Jumat (8/6/2012).



Menurut dia, pihak rumah sakit tidak bisa langsung menangani pasien sebelum ada hasil dari radiologi. Sebab jika ditangani tanpa ada hasil dari radiologi, dikhawatirkan akan berdampak buruk kepada pasien.

"Kondisi ibu hamil itu tidak apa-apa. Hanya karena belum ada hasil radiologi, maka kita belum bisa menangani. Jangan sampai ibunya malah meninggal," jelasnya.

Keterlambatan penanganan dari RSUD, tambah Masita, bukan karena pasien tersebut pemegang kartu miskin.

Lirqianti, warga Moramo, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, mengalami pendarahan dan sebelumnya ditangani Puskesmas Moramo. Pihak medis merujuk Lirqianti ke RS Permata Bunda Kendari. Janin usia 5 bulan yang dikandungnya dinyatakan meninggal. Dari RS tersebut, ia dirujuk ke RS Provinsi Sultra sejak Rabu (6/6/2012) lalu.

Suami Lirqianti, Abdul Rais akrhinya mengamuk karena merasa istrinya sama sekali tak ditangani. Ia membanting perabotan RS dan membawa istrnya keluar dari ruangan. Tapi lelaki berusia 27 tahun itu berhasil ditenangkan. Istrinya diminta kembali ke ruangan perawatan.

detikNews







BERITA LAINNYA:




Masukkan Email Anda Disini untuk dapatkan BERITA terbaru :

Delivered by FeedBurner



Selengkapnya...

Di Tengah Hujan Deras, SBY Buka MTQ Nasional di Ambon


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuka Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional ke-24 di Ambon, Maluku. Hujan deras mengiringi acara ini sepanjang malam.

Acara pembukaan digelar di Lapangan Merdeka, Ambon, Maluku, pukul 19.30 WIT, Jumat (8/6/2012). Turut hadir bersama SBY, Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II.



Pembukaan yang berlangsung meriah dengan gemerlap cahaya ini berlangsung di bawah hujan deras. Air turun sejak Kamis malam hingga Jumat malam ini.

Meski begitu, semangat panitia dan para peserta MTQ dari seluruh provinsi di Indonesia tak surut. Mereka tetap antusias mengikuti jalannya acara sambil terkena cipratan hujan.

Rencananya, acara MTQ ini bakal digelar hingga 19 Juni 2012. Saat penutupan, dijadwalkan Wapres Boediono yang akan hadir.

detikNews







BERITA LAINNYA:




Masukkan Email Anda Disini untuk dapatkan BERITA terbaru :

Delivered by FeedBurner



Selengkapnya...

41772-07
 
tv1one tv1one-Online.
Simplicity Edited by Ipiet's Template